K-POP
Banyak yang Bikin Suka Tapi Susah Dijelasin


Ilustrasi Kpop - theodysseyonlineIlustrasi Kpop - theodysseyonline

Annyeonghaseyo, Sobat Gaul! Adakah temen-temen di rumah yang enggak asing sama kata “oppa”, “hwaiting”, atau “saranghaeyo”? Jangan-jangan kata-kata itu udah masuk ke kamus percakapan Sobat Gaul sehari-hari? Selamat, kamu sudah terkena virus K-pop addict, hahaha.

Btw, apa sih yang membuat kamu seneng sama K-pop? “Karena style-nya keren-keren. Lagunya bagus juga. Orangnya [idol] keren-keren, lucu-lucu gitu. Banyak sebenarnya yang disuka tapi enggak bisa jelasin,” jelas Asha Yulia Yahya, K-popers dari SMAN 7 Solo. Begitu juga pendapat dari Ardini Ainur Ridha. Menurut siswi Kelas X IPA 6 SMAN 4 Solo ini, enggak ada alasan khusus untuk suka K-pop. Kalau suka ya suka aja. Ia juga merasa mempunyai keluarga baru saat berkumpul dengan sesama K-popers.

Terus mereka bener-bener suka K-pop sejak kapan sih? Asha mengaku suka dunia K-pop sejak kelas VI SD. Tapi ia benar-benar “mendalami” K-pop saat SMP hingga sekarang. Berbeda dengan Dini. “Awalnya suka sejak kelas VIII sih, tapi waktu itu masih suka sama CJR. Tapi pas udah K-pop banget tuh pas kelas IX akhir pas mau masuk SMA,” ujar cewek berhijab itu.

Apa sih yang membuat mereka tertarik sama dunia K-pop? Menurut mereka, semua di dunia K-pop itu menarik. Mulai dari artisnya yang multitalent sekaligus ganteng, dramanya yang high quality dan sangat menarik bahkan bagi semua kalangan, boyband-nya juga yang tenar hingga ke seluruh dunia. Apalagi musiknya semakin diminati banyak orang. Anyway, seberapa jauh kalian Kpop addict, guys? Sejauh jarak Indonesia-Korea Selatankah? Simak penuturan Sobat Gaul lainnya.

Amalia Dewi Rahmani Amalia Dewi Rahmani

Berawal dari pengaruh teman-temannya yang suka nonton drama dan dengerin lagu Korea, Amalia Dewi Rahmani, siswi Kelas X SMA Islam Al Azhar 7 Solo Baru ini kemudian menjadi penasaran dengan K-pop. Dia jadi K-popers sejak SMP hingga sekarang. Cewek yang akrab disapa Amel ini biasa mengisi waktu luangnya dengan fangirling-an. “Aku suka sama boyband Bangtan Boys [BTS]. Selain punya visual yang menarik, lagu mereka juga sesuai genreku dan mereka enggak kalah berbakat sama artis-artis Hollywood lain,” tuturnya kepada Wartawan Siswa (Wasis) The Young.

Lain halnya dengan Alya Ramadhani, siswi Kelas IX SMPIT Nur Hidayah yang jatuh cinta kepada K-pop gara-gara dengar lagu Switch yang dibawakan oleh SMRookies. Lalu dia mulai mengenal idol grup yang lain seperti EXO, BTS, dan sebagainya.  Pada awalnya Alya tidak bisa membedakan wajah para idol grup yang rata-rata mirip bagi orang yang baru kali pertama melihat mereka. Fangirl satu ini di mana pun dan kapan pun pasti selalu menyempatkan diri untuk update segala sesuatu tentang idolanya. Saat ini Alya sedang tertarik kepada Produce 101 Season 2, yakni acara survival yang akan menghasilkan idol grup cowok berdasarkan pilihan produser nasional (Korean Nitizens).
Alya mengaku 101 trainee dari acara itu benar-benar merusak list biasnya. “Tapi aku paling suka sama Kim Samuel karena meski baru berumur 15 tahun tapi bakatnya dalam dance dan vokal benar-benar luar biasa. Visualnya juga tidak diragukan lagi, benar-benar bikin jatuh cinta,” ujar pemilik akun Instagram @aalyar ini.

Semenjak Kpop menjadi bagian dari hidupnya, Amel mengaku menjadi sangat tertarik dengan berbagai hal yang berbau Korea Selatan, seperti bahasa, makanan, budaya, dan sebagainya. Meski terkadang nonton drama Korea membuatnya jadi lupa waktu dan memenuhi storage laptopnya namun Amel merasa wawasannya bertambah luas dan ia sedikit demi sedikit mengenal bahasa Korea. Saat ini Amel tidak terlalu hyper dengan Kpop karena disibukkan dengan berbagai kegiatan.

Asha Yulia Yahya Asha Yulia Yahya

Tak beda dengan Amel, Alya juga merasakan beberapa dampak dari kebiasaannya menjadi seorang fangirl. Meski dia jadi cenderung pegang HP, boros kuota dan terkadang mengacaukan jam tidurnya, Alya tetap berusaha untuk mengimbangi kegiatan fangirl dengan kewajiban dan aktivitas sekolahnya. Selain itu, Alya senang karena ia jadi kenal dengan banyak teman baik dari fandom yang sama maupun yang beda fandom.Untuk menonton aksi bias, Amel tidak menggunakan paket data melainkan selalu menggunakan wiFi untuk streaming. “Bersyukur sih karena pengeluaran jadi enggak banyak,” ujar pemilik akun Instagram @adr.xx ini.

Tapi Sobat Gaul, jangan sampai kesukaan itu membuat kita lupa sama kewajiban untuk sekolah dan beribadah yaa. K-pop tuh ada benefitnya enggak sih? “Ada dong pastinya. Kita jadi ngerti dikit-dikit bahasa Korea, kan tambah wawasan juga hahaha. Tambah temen juga yang sesama K-popers. Jadi kita pergaulannya sehat dan terkontrol kok. Kan enggak aneh-aneh,” tutur Asha. Lalu untuk dampak K-pop sendiri buat kehidupan sehari-apa? “Negatifnya ya jadi sedikit antisosial, jarang interaksi sama orang, kebanyakan main gadget. Kalau positifnya, kita jadi suka nabung buat beli merchandise k-pop yang kita pengin atau bahkan buat nonton konser,” ungkap Asha.

Wah bahaya tuh kalo udah antisosial, Sob. Buat Sobat Gaul yang juga K-popers, diusahakan K-pop jangan sampai mempengaruhi kehidupan kalian jadi lebih negatif ya. K-pop bisa kalian gunain buat motivasi misalnya untuk alasan belajar yang rajin biar nanti bisa traveling ke Korea terus ketemu oppa deh! Omo!



Related articles ALL POSTS
Berikan Tanggapanmu