LATIFAH MARATUN SHOLIKHAH
Penelitian Soal HIV AIDS Membawanya ke Amerika


Latifah Maratun SholikhahLatifah Maratun Sholikhah

Latifah Maratun Sholikhah tak menyangka dapat meraih penghargaan dalam Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) di Los Angeles Convention Center, California, Amerika Serikat, Mei lalu. Alumnus SMA Negeri 1 Teras Boyolali ini bahkan membawa pulang dua penghargaan, yakni grand award dan special award.

Ditemui The Young di SMA Negeri 1 Teras, Boyolali, Ifah mengaku mengusung karya ilmiah berjudul Neglected Children: Case Study of Public Attitudes toward Children with HIV AIDS in 6 Sub-Districts in Surakarta. “Karya tersebut tak lantas lolos ke Intel ISEF. Harus melalui berbagai tahapan, salah satunya diadu dengan karya siswa lain,” terang dara 17 tahun itu. Ifah mengisahkan karya ilmiahnya terpilih setelah menjuarai Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Ratusan karya siswa SMA di seluruh Indonesia itu terdiri dari tiga kategori, yakni, Ilmu Pengetahuan Teknik (IPT), Ilmu Pengetahuan Kebumian (IPK), dan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK).

Dari tiga ketegori itu, LIPI memilih juara I, II, dan III yang lantas mengadu ide lintas kategori. “Hanya ada tujuh yang melenggang ke tahapan berikutnya, salah satunya saya. Dari tujuh itu, ada dua yang mengundurkan diri, jadi tersisa lima. Lima tim juara LKIR kemudian digabung bersama tiga juara Olimpiade Penelitian Siswa (OPS) Kemendiknas. Delapan tim itulah yang nantinya dikirim ke Intel ISEF,” ungkap putri pasangan Saryono dan Siti Fatimah itu.

Setelah terpilih, Ifah dan tujuh tim lain dikarantina selama sepekan di Jakarta. Dalam karantina itu, mereka wajib berlatih presentasi, membuat poster, hingga melakukan revisi. “Kami presentasi selama lima menit kemudian diskusi. Saya yang mendapatkan giliran terakhir harus presentasi selama dua hari karena dilakukan tepat sebelum dan sesudah jam 12.00 malam pas pergantian hari,” kisahnya.

Seusai karantina, Ifah dan tim Indonesia untuk Intel ISEF berangkat ke Los Angeles. Ia didampingi Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Teras, Wakimun dan guru pembimbing, Kunto Susatyawan. “Ini menjadi perjalanan kali pertama saya ke luar negeri. Kami menumpang pesawat China Southern,” ujar Ifah.

Latifah di depan stand karya ilmiahnya saat Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) Latifah di depan stand karya ilmiahnya saat Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF)

Perjuangan Ifah bukan hanya dalam soal keilmuan saja. Upayanya berangkat sempat terhadang ketiadaan biaya. Namun perjuangannya tak sia-sia. Dara yang beralamat di Jl. Hendrokilo RT 005/RW 002, Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali itu sukses membawa pulang Grand Award Category Behavior and Social Science dan Special Award from American Psychologycal Assosiation. “Delapan tim yang dikirim ada empat yang mendapat award. Dua award untuk saya, dua yang lain masing-masing untuk tim dari SMAN 1 Jogja dan SMA Bali Mandara,” kata dia.

Gadis kelahiran Boyolali, 11 Januari 2000 itu lantas bercerita. Seusai menerima pengumuman lolos penjurian dan berhak berangkat ke LA, Ifah mengajukan proposal permohonan dana ke sekolah. Dana tersebut berguna untuk membiayai keberangkatan, kepulangan, dan biaya hidup selama di LA. Orang tuanya dipastikan tak bisa mengampu kebutuhan itu. “Meskipun menjual sapi tetap enggak bisa dipakai ke LA karena kurang. Tapi akhirnya, kami mendapat sokongan dari Bupati Boyolali, Seno Samodro. Dana senilai Rp100 juta digelontorkan untuk kami,” papar Ifah, sambil menyebut ayahnya hanya buruh tani, sedangkan ibunya buruh pabrik.

Dengan dana itu, Ifah berangkat. Perjuangannya membuahkan hasil dua awards bergengsi. Setelah pulang pun, Pemkab Boyolali masih memberikan laptop sebagai hadiah. “Ini adalah laptop ke-4 saya karena saya juga mendapatkan laptop serupa saat menjuarai Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) di Kudus, Kediri, dan di Universitas Negeri Semarang (Unnes).



Related articles ALL POSTS
Berikan Tanggapanmu