TNI AL Sisir Semua Kapal di Perbatasan Indonesia-Filipina


Dua pesawat Casa NC212 milik Skuadron Udara 600 Wing Udara 1 Puspenerbal, melakukan terbang formasi melintas di atas Pulau Kambing. Sebagai latar belakang tampak tiga kapal perang Republik Indonesia (KRI) yang mengarungi Laut Jawa. Momentum formasi indah alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI itu ditangkap saat gladi resik peringatan HUT Ke-69 TNI, Sabtu (4/10/2014). (JIBI/Solopos/Antara/M. Risyal Hidayat)Ilustrasi (JIBI/Solopos/Antara/M. Risyal Hidayat)

TNI AL menyisir setiap kapal yang melintasi perbatasan Indonesia-Filipina.

Solopos.com, NUNUKAN — Prajurit TNI AL menggelar patroli rutin di perairan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) untuk mencegah masuknya pelarian kelompok pro-Islamic State Iraq and Syria (ISIS) dari Filipina Selatan.

Perairan Kaltara yang diprediksi menjadi salah satu pintu masuk kelompok radikal dari negara itu mendapatkan penjagaan ketat selama kelompok bersenjata Maute di Pulau Marawi, Filipina, digempur tentara pemerintah Filipina.

Komandan Pangkalan Utama TNI AL XIII Kota Tarakan, Kalimantan Utara, Laksamana Pertama TNI Ferial Fachroni, melalui sambungan telepon dari Nunukan, Jumat (16/6/2017), menerangkan prajurit TNI AL yang dikerahkan melakukan patroli pengamanan perairan tergabung dalam tim East Fleet Quick Response (EFQR).

Patroli yang diinstruksikan Panglima TNI untuk mengantisipasi masuknya kelompok radikal Maute yang terafiliasi dengan ISIS di Pulau Marawi, Filipina, pasca-operasi militer Filipina di sana.

Selama digelar patroli oleh tim EFQR yang terdiri sembilan prajurit itu, kata dia, belum ada indikasi kelompok radikal tersebut menyeberang ke perbatasan Indonesia. Tim EFQR telah memeriksa seluruh kapal atau perahu yang melintas di wilayah perbatasan perairan Kaltara yang berbatasan dengan Laut Sulawesi.

Pengetatan pengamanan wilayah perairan berkaitan pula dengan empat warga negara Indonesia (WNI) yaitu Anggara Suprayogi, Yayat Hidayat Tarli, Yoki Pratama Windyarto, dan Al Ikhwan Yushel yang ditetapkan pemerintah Filipina sebagai bagian kelompok ISIS.

Keempat WNI ini ditetapkan sebagai buronan pemerintah negara itu dimana diperkirakanb bergabung dengan militan Maute yang menguasai Pulau Marawi.

“Adanya empat WNI yang ditetapkan jadi buronan pemerintah Filipina karena diperkirakan bergabung dengan kelompok ISIS yang bermarkas di Pulau Marawi. Makanya menjadi salah satu fokus kita menjaga wilayah perairan agar tidak lolos masuk wilayah NKRI,” terang Ferial Fachroni.



Related articles ALL POSTS
Berikan Tanggapanmu