
Camat Girimarto, Tri Edi Hadiyanto menunjukkan contoh proposal sumbangan dalam bentuk penjualan undangan pertunjukan wayang yang dibawa oleh wartawan bodrek, Rabu (19/9/2012). (JIBI/SOLOPOS/Andi Sumarsono)
Camat Girimarto, Tri Edi Hadiyanto kepada Solopos.com, Rabu (19/9/2012) mengatakan wartawan bodrek biasanya datang sekaligus beberapa orang dan mengaku mewakili instansi resmi atau lembaga resmi. “Tetapi ujung-ujungnya minta uang,” ujarnya.
Saat ditanya nominal uang yang diberikan, Edi mengaku bervariasi antara Rp50.000 sampai Rp500.000. Dia meresahkan hal tersebut karena tidak anggaran bagi wartawan bodrek, sehingga dia berharap kepada Dinas Perhubungan dan Komunikasi (Dishubkominfo) Wonogiri menangani hal tersebut.
Dia menambahkan, selain mengaku dari instansi resmi kadang mereka juga mengaku dari Lembaga Swadaya Masyrakat (LSM) yang tidak jelas. “Mereka datang kesini sewaktu-waktu dan yang dicari selalu camat, jika saya tidak ada mereka rela menunggu hingga berjam-jam di depan ruang kerja saya,” ujarnya. Dia mengimbau kepada instansi kecamatan lain waspada dengan modus tersebut. “Kalau tidak diberi uang, mereka mendesak pemberian bantuan seikhlasnya, pokoke nganyelke,” tukasnya.
Dia mengaku mempertanyakan sertifikat tersebut kepada Dishubkominfo Wonogiri, apakah itu benar dari dinas atau pun lembaga resmi . ”Jujur hampir setiap pekan ada seperti itu dan sangat meresahkan karena di luar anggaran yang ada,” ujarnya. Dia berharap ada sosialisasi terkait masalah tersebut. “Kami ingin tahu prosedurnya agar bisa membedakan wartawan resmi atau pun gadungan,” ujarnya.

Contoh proposal bantuan dalam bentuk imbauan pembelian undangan pertunjukan wayang yang mengatasnamakan sebuah organisasi kemasyarakatan. (JIBI/SOLOPOS/Andi Sumarsono)
Sementara Camat Baturetno, Teguh Setiyono, menyatakan menyesalkan perilaku oknum-oknum tersebut. “Jika modus sertifikat bantuan saya belum pernah menemui tetapi saya harap teman-teman camat di Wonogiri waspada dengan oknum tersebut,” ujarnya.
Leave a Reply